PEMBELAJARAN MENULISKAN GAGASAN UTAMA DALAM PARAGRAF
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK INQUIRI DI KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH MANARULHUDA
CIANJUR
TAHUN PELAJARAN 2015-2016
PROPOSAL
PENELITIAN
disususn untuk memenuhi syarat mengikut ujian
seminar proposal
pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia

oleh :
EKA ABDULLAH AL ANSHORI
NIM 12210205
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN (STKIP)
SILIWANGI BANDUNG
2015
PROPOSAL PENELITIAN
A.
Judul
MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTESKTUAL DI KELAS VII MTS MANARULHUDA
B.
Latar
Belakang Masalah
Kemampuan
bersastra dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP/Mts masih
sangat sulit pemahamannya, strategi dan pendekatan pembelajaran diberikan
kepada siswa selalu terbentur oleh beberapa faktor di antaranya minimnya sumber
belajar di lingkungan siswa, langkanya buku bacaan di perpustakaan serta
kurangnya kemampuan guru memahami sastra itu sendiri.
Dengan
diluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sedikit banyak
memberikan ruang kepada penulis untuk memberikan bahan ajar yang lebih kreatif
dan menyenangkan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan suatu desain
kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu. Saylor
(dalam Gapur, dkk. 2001) mengartikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
sebagai rancangan kurikulum yang dikembangkan berdasarkan atas seperangkat
kompetensi khusus, yang harus dipelajari dan atau ditampilkan siswa. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), memperkenalkan berbagai macam strategi
pendekatan dan model pembelajaran, sehingga proses pembelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia lebih variatif.
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan khususnya pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada
hakekat pembelajaran bahasa,yaitu belajar berbahasa adalah belajar
berkomunikasi sedangkan belajar sastra adalah
belajar
menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Standar kompetensi
pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan di antaranya :
1. Sebagai
sarana peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa;
2. Sebagai
sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan
pengembangan budaya.
3. Sebagai
sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
4. Sebagai
sarana penyebarluasan pemakaian bahasa dan sastra Indonesia yang baik untuk
berbagai keperluan;
5. Sebagai
sarana pengembangan penalaran dan;
6. Sebagai
sarana keberanekaragaman budaya Indonesia melalui khasanah kesusastraan
Indonesia.
Berdasarkan
uraian di atas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, lebih khusus pada
pembelajaran sastra (puisi) harus dapat menumbuhkan, mengembangkan, dan
meningkatkan daya apresiasi siswa terhadap karya sastra Indonesia. Dalam proses
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, puisi merupakan salah satu karya seni
karena menyuguhkan keindahan yang artistic dalam segi bahasa, impresif,
imajinatif serta menumbuhkan kreatifitas yang tinggi. Pembelajaran sastra dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan akan lebih bermakna apabila memakai model
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan model ini siswa akan
lebih kreatif untuk berapresiasi dan berimajinasi, karena siswa akan langsung
berkomunikasi dengan karya sastra Indonesia melalui media pembelajaran . Siswa
juga dapat berekspresi dalam pembuatan sastra/puisi dengan mencoba dibawa
secara langsung ke dunia luar lingkungan sekolah, kebun, gunung, sawah, pasar
dan lain-lain.
Pembelajaran
sastra (puisi) selain untuk berapresiasi terhadap karya lain, juga dapat
digunakan untuk berimajinasi siswa itu sendiri dengan bahasa yang sederhana,
sehingga dapat mempertajam kepekaan rasa, penghalusan jiwa, penalaran dan daya
khayal serta kepekaan terhadap budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat
dan lingkungan hidup, untuk mencapai tujuan seperti di atas siswa diharapkan
banyak membaca karya sastra dan banyak belajar mengolah kata dan tentunya pihak
sekolah harus mendukung dengan pengadaan buku-buku sastra atau bacaan lainnya
di perpustakaan.
Apresiasi
siswa terhadap sastra (puisi) mempunyai peranan yang sangat penting dalam
mengisi kehidupan kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai kehidupan yang
baik, yang diperoleh dari proses pembelajaran sastra (puisi) misalnya;
nilai-nilai moral, nilai social kemasyarakatan, keindahan rasa, perasaan halus,
nilai kemerdekaan serta nilai-nilai keagamaan.
Pengajaran
sastra harus lebih didahulukan dari pada memberikan pengetahuan tentang sastra.
Pengajaran sastra pada hakekatnya menanamkan rasa peka terhadap hasil sastra,
menanamkan rasa cinta, sehingga timbul kegemaran, kemampuan penangkapan dan penilaian
terhadap hasil-hasil sastra (Brahim, dalam Situmorang. 1983.23)
Pembelajaran
sastra' bertujuan membina dan membimbing siswa kearah apresiasi yang baik
terhadap hasil-hasil karya sastra, membimbing siswa untuk memiliki kepekaan
rasa dan kesanggupan untuk memahami sekaligus menikmati dan menghargai terhadap
hasil karya sastra Tidak menutup kemungkinan siswa juga diharapkan dapat
berekspresi menuangkan ide, gagasannya dan pengalaman estetiknya ke dalam
sebuah karya sastra (puisi) walaupun sangat sederhana.
Dalam
proses belajar mengajar di SMP/Mts memang masih sangat banyak kelemahannya,
disamping lingkungan keluarga yang tidak kondusif dalam mendukung anaknya untuk
belajar, juga faktor ekonomi yang tidak cukup baik untuk terciptanya siswa
belajar yang optimal. Sekolah pun masih belum punya perpustakaan yang
representative untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Latar belakang
penulis juga masih sangat kurang terhadap pemahaman puisi, sehingga penulis
juga harus ekstra keras untuk belajar lebih banyak.
Dalam
upaya mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi di SMP/Mts penulis mencoba
melakukan uji coba dengan mempraktekkan mengajar dengan menggunakan model
pendekatan kontekstual (CTL) khusus di kelas VII, dengan pendekatan tersebut
penulis membimbing dan membina siswa untuk berapresiasi puisi dengan baik,
sehingga tujuan pembelajaran puisi di SMP tercapai secara optimal. Adapun judul
penelitian ini adalah "Model Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan
Menggunakan Pendekatan Kontesktual di Kelas VII Mts Manarulhuda Tahun Pelajaran
2015-2016.
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, penulis membatasi permasalahan yang akan
menjadi obyek penelitian yaitu Model Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan
Menggunakan Pendekatan Kontekstual di Kelas VII SMP Tahun Pelajaran 2011-2012
Kota Bandung.
Adapun
perumusan masalah model pembelajaran apresiasi puisi dengan pendekatan
kontekstual harus dirumuskan secara jelas, untuk mempermudah mengawali
penelitian serta mempermudah merumuskan masalah yang akan penulis teliti.
Surakhmad
(1993:36) menyatakan, bahwa ; perumusan masalah itu diperlukan bukan saja untuk
memudahkan dan menyederhanakan masalah. Tetapi sangat diperlukan untuk
menetapkan lebih dahulu segala sesuatu yang erat kaitannya dengan pemecahan
masalah itu sendiri, tenaga, waktu dan biaya yang timbul dari rencana itu
sendiri.
Dari
uraian di atas penulis ingin mengetahui sejauhmana apresiasi puisi siswa
berdasarkan model pendekatan kontekstual di kelas VII Mts Dalam penelitian ini
penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah
model pembelajaran Apresiasi Sastra/puisi dengan menggunakan pendekatan
kontekstual berhasil dengan baik?
2. Apakah
ada kendala/hambatan yang ditemui penulis dalam pelaksanaan proses pembelajaran
apresiasi sastra/puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual di kelas VII
Mts?
3. Apakah
kemampuan siswa bertambah setelah mengikuti pembelajaran apresiasi sastra/puisi
dengan menggunakan pendekatan kontekstual di kelas VII Mts?
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini bukanlah hanya sekedar memenuhi persyaratan menyelesaikan
jenjang pendidikan melainkan sebagai upaya untuk memperoleh pengalaman dalam
dunia pendidikan. Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk :
1. Untuk
mengetahui keberhasilan siswa SMP dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan
pendekatan kontekstual.
2. Untuk
mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi siswa SMP dalam mengapresiasi puisi
dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
E.
Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini harus membawa manfaat baik langsung maupun tidak langsung. Manfaat
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi
sumbangan ilmiah tentang pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan
pendekatan kontesktual di kelas VII Mts Manarulhuda
2. Dapat
membantu menyempurrnakan pengajaran bahasa Indonesia umumnya dan pembelajaran
apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontesktual di kelas VII Mts
Manarulhuda.
3. Menunjukkan
sebuah model pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan
kontesktual di kelas VII Mts Manarulhuda yang dikembangkan berdasarkan
kurikulum 2006, yang dapat dijadikan acuan oleh guru sehingga proses
pembelajaran dapat berhasil dengan baik.
F.
Anggapan
Dasar
Anggapan
dasar merupakan dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir, karena
dianggap benar (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Anggapan dasar hendaknya disusun
berdasarkan kebenaran yang diperoleh dari penelitian. Dalam menentukan asumsi
harus ada relevansi yang mendasari anggapan dasar itu. Dalam hal ini sejalan
dengan pendapat Arikunto (1993:57) yang menyatakan bahwa anggapan dasar
merupakan asumsi dasar, postulat, atau anggapan dasar harus disusun atas
kebenaran yang diperoleh peneliti. Dalam penelitian ini penulis merumuskan
anggapan dasar sebagai berikut:
1. Apresiasi
adalah bagian penting dalam proses pembelajaran apresiasi puisi yang harus
disampaikan kepada siswa
2. Keberhasilan
pembelajaran apresiasi puisi ditentukan oleh kegiatan penyampaian bahan
pelajaran dalam proses pembelajaran
3. Model
pendekatan kontekstual memberi ruang kepada siswa dalam berapresiasi puisi
4. Pembelajaran
apresiasi puisi perlu terus diberikan untuk lebih menggairahkan siswa dalam
proses belajar mengajar dengan bertumpuk pada tujuan pembelajaran yang sesuai
dengan ketentuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
G.
Hipotesis
Hipotesis
adalah pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk positif. Hipotesis sebagaimana
yang dikemukakan oleh Arikunto (1993 : 62) "Merupakan jawaban sementara
terhadap permasalahan, penelitian". Dengan demikian hipotesis merupakan
jawaban yang sifatnya sementara terhadap sebuah hasil penelitian sampai
terbukti kebenarannya melalui data dan keterangan yang terkumpul.
Pada
penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: Model Pembelajaran
Apresiasi Sastra/Puisi dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual di Kelas VII
SMP Tahun Pelajaran 2011-2012 menunjukkan kemampuan siswa dengan apresiasi yang
baik.
H.
Definisi
Operasional
Untuk
menghindari salah persepsi, penulis membuat definisi operasional dalam karya
ilmiah ini. Berikut beberapa definisi operasional serta penjelasannya. Tarigan
(1995 : 5) mendefinisikan Pembelajaran sebagai berikut:
1. Pembelajaran
adalah pengalaman belajar yang dialami oleh siswa dalam proses menguasai tujuan
pelajaran;
2. Pembelajaran
adalah pengalaman yang dapat diartikan sebagai penghayatan sesuatu yang aktual.
Penghayatan akan menimbulkan respon tertentu dari pihak pembelajar.
3. Pengalaman
yang berupa pelajaran akan menghasilkan perubahan seperti menjadi dewasa,
perubahan perilaku serta menambah informasi.
Dari
uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu
proses pengalaman belajar, dimana siswa menemukan informasi berupa ilmu
pengetahuan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, berupa
perubahan tingkah laku, pola hidup dan Iain-Iain.
Apresiasi
adalah pengenalan nilai pada bidang nilai yang lebih tinggi sehingga siap untuk
melihat serta mengenal nilai dengan tepat, dan menjawab dengan hangat dan
simpati (Yus Rusyana, 1984: 321). Sedangkan menurut Poerwadarminta (1984 : 55)
apresiasi merupakan penilaian yang baik/penghargaan.
Menurut
penelitian, penulis berpendapat bahwa apresiasi puisi pada siswa kelas VII SMP
ditemukan beberapa tingkatan pemahaman yaitu tingkat menggemari, menikmati dan
mereaksi sehingga siswa dituntut kesungguhan dalam belajar.
Mengapresiasi
berarti menikmati keindahan sebuah karya puisi, mengapresiasi berarti
menghayati dan memahami sebuah karya puisi yang pada gilirannya memberikan
penghargaan kepada sebuah karya puisi itu sendiri.Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), adalah sebuah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas :2002 : 4). Model
pendekatan ini adalah model yang baru dalam proses pembelajaran, titik berat
pendekatan ini adalah siswa. Siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari
pemberian orang lain, siswa secara langsung bersentuhan, mendengar dengan karya
sastra melalui sumber belajar dan media pembelajaran.
I.
Metode
dan Teknik Penelitian
Metode
adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud
(dalam ilmu pengetahuan dsb.) (Poerwadarminta, 1985 : 649). Metode yang paling
tepat menurut penulis adalah metode deskriptif. Dengan metode penelitian ini
bertujuan untuk melihat hasil. Hasil yang dimaksud adalah hasil uji coba proses
pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan
menggunakan media audio (kaset audio), sehingga akhirnya akan dapat diambil
kesimpulan apakah pembelajarannya akan berhasil atau tidak.
Whitney
(1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan
interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam
masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi
tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap,
pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan
pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam
metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu
sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan
klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan
suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode
ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga
diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara
satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi
kasus (status study).
Metode
deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga
penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat
diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus
membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan
secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang
dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih
terjangkau dalam ingatan responden.
J.
Populasi
dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek
penelitian (Suharsimi Arikunto, 1993: 102). Sedangkan menurut pendapat
(Surakhmad, 1994: 93) penarikan sebahagian dari populasi untuk mewakili seluruh
populasi.
Dalam penelitian uji coba ini penulis
menentukan jumlah populasi sebagai sumber data yang akan diteliti. Adapun yang
dijadikan populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII MTS Tahun Pelajaran
2015-2016 yang berjumlah 150 siswa.
2. Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil yang
diteliti (Suharsimi, 1998: 177). Sedangkan sample yang penulis ambil dari
penelitian ini adalah 15 % dari jumlah pupulasi kelas VII MTS yang berjumlah
150 siswa atau sebanyak 30 siswa. Kemudian teknik yang penulis gunakan dalam
penelitian ini yaitu teknik sampel random kelas.
Yang dimaksudkan dengan pengambilan
sampel acak sederhana adalah pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga setiap
unit dasar memiliki kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel,
Sistem pengambilan sampel secara acak
dengan menggunakan undian
atau tabel angka random.
Tabel angka random merupakan tabel yang dibuat dalam komputer berisi
angka-angka yang terdiri dari kolom dan baris,
dan cara pemilihannya dilalukan secara bebas. Pengambilan acak secara sederhana
ini dapat menggunakan prinsip pengambilan sampel dengan pengembalian ataupun
pengambilan sampel tanpa pengembalian.
Kelebihan dari pemngembilan acak sederhana ini adalah mengatasi bias yang
muncul dalam pemilihan anggota sampel, dan kemampuan menghitung standard error. Sedangkan,kekurangannya
adalah tidak adanya jaminan bahwa setiap sampel yang diambil secara acak akan
merepresentasikan populasi secara tepat.
K.
Prosedur
Penelitian
1.
Tahap Persiapan
Tahap-tahap yang dilakukan
dalam melakukan persiapan adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi
permasalahan yang akan dijadikan bahan penelitian melalui observasi lapangan.
b. Memilih
masalah.
c. Membuat
outline proposal penelitian.
d. Mengajukan
judul ke Koordinator Skripsi.
e. Konsultasi
dengan Dosen Pembimbing dalam penyusunan proposal penelitian.
f. Seminar
proposal penelitian.
g. Melakukan
perbaikan proposal.
h. Membuat
dan merevisi rencana pelaksanaan pembelajaran dan bahan ajar penelitian.
i.
Menyusun instrumen penelitian.
j.
Pemilihan sampel penelitian.
k. Mengurus
perizinan penelitian.
l.
Melakukan uji coba instrumen dan
penelitian.
m. Menganalisis
hasil uji coba.
2. Tahap
Pelaksanaan Penelitian
Pada
pelaksanaan penelitian dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut
a. Melaksanakan
tes dengan soal ujian performansi berbahasa dan bersastra yang dibedakan ke
dalam tiga bentuk, yaitu (1) tes objektif, (2) tes nonobjektif, dan (3) tes
perbuatan.
c. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Juli-September 2015, setelah penulis mendapatkan surat
izin dari kepala sekolah dan pihak dari STKIP Siliwangi Bandung
d. Pengisian
angket sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia
3. Tahap
Akhir
Pada
tahap akhir dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Membandingkan
hasil tes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b. Melakukan
analisis data kuantitatif terhadap pretest dan postest.
c. Melakukan
analisis data kualitatif terhadap angket tanggapan siswa, jurnal dan lembar
observasi.
d. Membuat
kesimpulan dari data kuantitatif yang diperoleh, yaitu mengenai peningkatan
kemampuan berpikir kritis matematis siswa.
L.
Instrumen
Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan
dengan metode deskriptif, dan cara
pengumpulan
data sebagai berikut:
1. Angket
/ Kuesioner
Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan
kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya.
Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan
data melalui angket cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan
tersebar di berbagai wilayah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran (dalam Sugiyono, 2007:163) terkait
dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip
Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
a. Isi
dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka
harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
b. Bahasa
yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin
menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa Inggris pada responden
yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.
c. Tipe
dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya
jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka
responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.
2. Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan
data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket)
namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi
(situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk
mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan
pada responden yang tidak terlalu besar.
Bentuk
instrumen observasi dibedakan menjadi 2
yaitu:
a. Participant
Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara
langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati
sebagai sumber data. Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai
bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah,
hubungan antar guru, dsb.
b. Non
participant Observation
Berlawanan dengan participant
Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut
secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Misalnya penelitian tentang pola
pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat
dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.
Kelemahan dari metode ini adalah
peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak
sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam
peristiwa.
Alat
yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku
catatan, kamera photo, dll.
3. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang
dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data
maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar
biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin
menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik
wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian
kualitatif)
Wawancara
terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
a. Wawancara
terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang
ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara
sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera
photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
b. Wawancara
tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman
wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya
memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
M.
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini merujuk pada tujuan penelitian yang sudah dirumuskan,
yaitu (1) untuk melihat bagaimanakah gambaran variabel-variabel yang
diteliti dan (2) untuk melihat ada tidaknya hubungan antar variabel.
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik analisis data deskriptif dan
teknik analisis data inferensial. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk
manganalisis gambaran variabel, sementara teknik analisis inferensial
digunankan sebagai alat untuk menarik kesimpulan ada tidaknya hubungan antar
variabel yang diteliti.Secara khusus, analisis data deskriptif yang digunakan
adalah dengan menghitung ukuran pemusatan dan penyebaran data yang telah
diperoleh, dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Selanjutnya
analisis data inferensial yang digunakan adalah analisis korelasi Rank
Spearman. Analisis Rank Spearman ini digunakan karena tujuan penelitian hendak
mengkaji ada tidaknya hubungan antar variabel dan jenis data yang diperoleh
berbentuk data ordinal.
Langkah
kerja analisis data desriptif meliputi:
1. Melakukan
editing data, yaitu memeriksa kelengkapan jawaban responden, meneliti
konsistensi jawaban, dan menyeleksi keutuhan kuesioner sehingga data siap
diproses.
2. Melakukan
input data (tabulasi), berdasarkan data yang diperoleh responden.
3. Menghitung
frekuensi data yang diperoleh.
4. Menyajikan
data yang sudah diperoleh, baik dalam bentuk tabel ataupun grafik.
5. Melakukan
analisis berdasarkan data yang sudah disajikan.
Sementara
langkah kerja analisis data inferensial (analisis korelasi) meliputi:
1. Melakukan
editing data, yaitu memeriksa kelengkapan jawaban responden, meneliti
konsistensi jawaban, dan menyeleksi keutuhan kuesioner sehingga data siap
diproses.
2. Melakukan
input data (tabulasi), berdasarkan skor yang diperoleh responden.
3. Menghitung
jumlah skor yang diperoleh oleh masing-masing responden
4. Menghitung
nilai koefisien korelasi rank spearman , yaitu dengan cara mengkorelasikan
skor-skor pada masing-masing variabel.
5. Menghitung
nilai uji statistik t (jika penelitian sampel)
6. Menentukan
titik kritis atau nilai tabel r atau nilai tabel t, pada derajat bebas (db = N
– k – 1) dan tingkat signifikansi 95% atau ρ = 0,05.
7. Membandingkan
nilai hitung r atau nilai hitung t dengan nilai r atau nilai t yang terdapat
dalam tabel.
8. Membuat
kesimpulan. Kriteria kesimpulan: Jika nilai hitung r atau t lebih besar dari
nilai tabel r atau t, maka item angket dinyatakan signifikan.
N.
Jawal
Penelitian
|
No
|
Jenis
Kegiatan
|
Juli
|
Agustus
|
September
|
|||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Penyusunan
Proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Penyusunan
Instrumen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pengumpulan
dan pengolahan Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyajian
Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
O.
Daftar
Pustaka
Arikunto,
Suharsimi.(1993). Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka
Cipta
Depdiknas. (2002). Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Depdiknas.
--------------.
(2003). Kurikulum 2004. Jakarta : Depdiknas.
--------------.
(2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia.
Jakarta: Dediknas.
--------------.
(2004). Media Pembelajaran . Jakarta : Depdiknas.
--------------
2004. Pedoman Pembelajaran Tuntas. Jakarta
:
Depdiknas. Efendi. 1993. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Tangga Mustika
Alam.
Hidayat, Kosadi. 1995. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia.
Bandung:
Bina Cipta. Nurhadi. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I unruk SMP kelas
VII.
Jakarta: Erlangga Poerwadarminta. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. PN. Balai
Pustaka.
Rusyana, Yus. 1992. Metode Pengajaran sastra. Bandung : Gunung
La
rang. Saini, K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.
Sudjana.1996. Metoda Statistik. Bandung : Tarsito Surakhmad, Winarno. 1994.
Pengantar Penelitian llmiah. Bandung:
Tarsito.
Suroto . 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT Gelora Akasara
Pratama.
Suroso. 2000. Ikhtisar Seni Sastra. Surakarta : Tiga Bandungkai. Surya, Muhamad
. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.
Jakarta
: CV. Mahaputra Adidaya. Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar
Sastra. Bandung : Angkasa.
No comments:
Post a Comment