Tuesday, 15 September 2015

contoh profosal skripsi bahasa indonesia



PEMBELAJARAN MENULISKAN GAGASAN UTAMA DALAM PARAGRAF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK INQUIRI DI KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH MANARULHUDA CIANJUR
TAHUN PELAJARAN 2015-2016


PROPOSAL PENELITIAN

disususn untuk memenuhi syarat mengikut ujian seminar proposal
pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia



Description: F:\UTS KAMPUS\proposal penol\IMG_20150706_210054.jpg


oleh :
EKA ABDULLAH AL ANSHORI
NIM 12210205



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
SILIWANGI BANDUNG
2015







PROPOSAL PENELITIAN
A.    Judul

MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTESKTUAL DI KELAS VII MTS MANARULHUDA

B.     Latar Belakang Masalah
Kemampuan bersastra dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP/Mts masih sangat sulit pemahamannya, strategi dan pendekatan pembelajaran diberikan kepada siswa selalu terbentur oleh beberapa faktor di antaranya minimnya sumber belajar di lingkungan siswa, langkanya buku bacaan di perpustakaan serta kurangnya kemampuan guru memahami sastra itu sendiri.
Dengan diluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sedikit banyak memberikan ruang kepada penulis untuk memberikan bahan ajar yang lebih kreatif dan menyenangkan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan suatu desain kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu. Saylor (dalam Gapur, dkk. 2001) mengartikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai rancangan kurikulum yang dikembangkan berdasarkan atas seperangkat kompetensi khusus, yang harus dipelajari dan atau ditampilkan siswa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), memperkenalkan berbagai macam strategi pendekatan dan model pembelajaran, sehingga proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia lebih variatif.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan khususnya pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada hakekat pembelajaran bahasa,yaitu belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi sedangkan belajar sastra adalah
belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Standar kompetensi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di antaranya :
1.      Sebagai sarana peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa;
2.      Sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
3.      Sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
4.      Sebagai sarana penyebarluasan pemakaian bahasa dan sastra Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan;
5.      Sebagai sarana pengembangan penalaran dan;
6.      Sebagai sarana keberanekaragaman budaya Indonesia melalui khasanah kesusastraan Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, lebih khusus pada pembelajaran sastra (puisi) harus dapat menumbuhkan, mengembangkan, dan meningkatkan daya apresiasi siswa terhadap karya sastra Indonesia. Dalam proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, puisi merupakan salah satu karya seni karena menyuguhkan keindahan yang artistic dalam segi bahasa, impresif, imajinatif serta menumbuhkan kreatifitas yang tinggi. Pembelajaran sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan akan lebih bermakna apabila memakai model pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan model ini siswa akan lebih kreatif untuk berapresiasi dan berimajinasi, karena siswa akan langsung berkomunikasi dengan karya sastra Indonesia melalui media pembelajaran . Siswa juga dapat berekspresi dalam pembuatan sastra/puisi dengan mencoba dibawa secara langsung ke dunia luar lingkungan sekolah, kebun, gunung, sawah, pasar dan lain-lain.
Pembelajaran sastra (puisi) selain untuk berapresiasi terhadap karya lain, juga dapat digunakan untuk berimajinasi siswa itu sendiri dengan bahasa yang sederhana, sehingga dapat mempertajam kepekaan rasa, penghalusan jiwa, penalaran dan daya khayal serta kepekaan terhadap budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat dan lingkungan hidup, untuk mencapai tujuan seperti di atas siswa diharapkan banyak membaca karya sastra dan banyak belajar mengolah kata dan tentunya pihak sekolah harus mendukung dengan pengadaan buku-buku sastra atau bacaan lainnya di perpustakaan.
Apresiasi siswa terhadap sastra (puisi) mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengisi kehidupan kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai kehidupan yang baik, yang diperoleh dari proses pembelajaran sastra (puisi) misalnya; nilai-nilai moral, nilai social kemasyarakatan, keindahan rasa, perasaan halus, nilai kemerdekaan serta nilai-nilai keagamaan.
Pengajaran sastra harus lebih didahulukan dari pada memberikan pengetahuan tentang sastra. Pengajaran sastra pada hakekatnya menanamkan rasa peka terhadap hasil sastra, menanamkan rasa cinta, sehingga timbul kegemaran, kemampuan penangkapan dan penilaian terhadap hasil-hasil sastra (Brahim, dalam Situmorang. 1983.23)
Pembelajaran sastra' bertujuan membina dan membimbing siswa kearah apresiasi yang baik terhadap hasil-hasil karya sastra, membimbing siswa untuk memiliki kepekaan rasa dan kesanggupan untuk memahami sekaligus menikmati dan menghargai terhadap hasil karya sastra Tidak menutup kemungkinan siswa juga diharapkan dapat berekspresi menuangkan ide, gagasannya dan pengalaman estetiknya ke dalam sebuah karya sastra (puisi) walaupun sangat sederhana.
Dalam proses belajar mengajar di SMP/Mts memang masih sangat banyak kelemahannya, disamping lingkungan keluarga yang tidak kondusif dalam mendukung anaknya untuk belajar, juga faktor ekonomi yang tidak cukup baik untuk terciptanya siswa belajar yang optimal. Sekolah pun masih belum punya perpustakaan yang representative untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Latar belakang penulis juga masih sangat kurang terhadap pemahaman puisi, sehingga penulis juga harus ekstra keras untuk belajar lebih banyak.
Dalam upaya mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi di SMP/Mts penulis mencoba melakukan uji coba dengan mempraktekkan mengajar dengan menggunakan model pendekatan kontekstual (CTL) khusus di kelas VII, dengan pendekatan tersebut penulis membimbing dan membina siswa untuk berapresiasi puisi dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran puisi di SMP tercapai secara optimal. Adapun judul penelitian ini adalah "Model Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Menggunakan Pendekatan Kontesktual di Kelas VII Mts Manarulhuda Tahun Pelajaran 2015-2016.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis membatasi permasalahan yang akan menjadi obyek penelitian yaitu Model Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual di Kelas VII SMP Tahun Pelajaran 2011-2012 Kota Bandung.
Adapun perumusan masalah model pembelajaran apresiasi puisi dengan pendekatan kontekstual harus dirumuskan secara jelas, untuk mempermudah mengawali penelitian serta mempermudah merumuskan masalah yang akan penulis teliti.
Surakhmad (1993:36) menyatakan, bahwa ; perumusan masalah itu diperlukan bukan saja untuk memudahkan dan menyederhanakan masalah. Tetapi sangat diperlukan untuk menetapkan lebih dahulu segala sesuatu yang erat kaitannya dengan pemecahan masalah itu sendiri, tenaga, waktu dan biaya yang timbul dari rencana itu sendiri.
Dari uraian di atas penulis ingin mengetahui sejauhmana apresiasi puisi siswa berdasarkan model pendekatan kontekstual di kelas VII Mts Dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah model pembelajaran Apresiasi Sastra/puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual berhasil dengan baik?
2.      Apakah ada kendala/hambatan yang ditemui penulis dalam pelaksanaan proses pembelajaran apresiasi sastra/puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual di kelas VII Mts?
3.      Apakah kemampuan siswa bertambah setelah mengikuti pembelajaran apresiasi sastra/puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual di kelas VII Mts?
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini bukanlah hanya sekedar memenuhi persyaratan menyelesaikan jenjang pendidikan melainkan sebagai upaya untuk memperoleh pengalaman dalam dunia pendidikan. Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk :
1.      Untuk mengetahui keberhasilan siswa SMP dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
2.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi siswa SMP dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini harus membawa manfaat baik langsung maupun tidak langsung. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Memberi sumbangan ilmiah tentang pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontesktual di kelas VII Mts Manarulhuda
2.      Dapat membantu menyempurrnakan pengajaran bahasa Indonesia umumnya dan pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontesktual di kelas VII Mts Manarulhuda.
3.      Menunjukkan sebuah model pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontesktual di kelas VII Mts Manarulhuda yang dikembangkan berdasarkan kurikulum 2006, yang dapat dijadikan acuan oleh guru sehingga proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik.
F.     Anggapan Dasar

Anggapan dasar merupakan dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir, karena dianggap benar (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Anggapan dasar hendaknya disusun berdasarkan kebenaran yang diperoleh dari penelitian. Dalam menentukan asumsi harus ada relevansi yang mendasari anggapan dasar itu. Dalam hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (1993:57) yang menyatakan bahwa anggapan dasar merupakan asumsi dasar, postulat, atau anggapan dasar harus disusun atas kebenaran yang diperoleh peneliti. Dalam penelitian ini penulis merumuskan anggapan dasar sebagai berikut:
1.      Apresiasi adalah bagian penting dalam proses pembelajaran apresiasi puisi yang harus disampaikan kepada siswa
2.      Keberhasilan pembelajaran apresiasi puisi ditentukan oleh kegiatan penyampaian bahan pelajaran dalam proses pembelajaran
3.      Model pendekatan kontekstual memberi ruang kepada siswa dalam berapresiasi puisi
4.      Pembelajaran apresiasi puisi perlu terus diberikan untuk lebih menggairahkan siswa dalam proses belajar mengajar dengan bertumpuk pada tujuan pembelajaran yang sesuai dengan ketentuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

G.    Hipotesis

Hipotesis adalah pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk positif. Hipotesis sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (1993 : 62) "Merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan, penelitian". Dengan demikian hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara terhadap sebuah hasil penelitian sampai terbukti kebenarannya melalui data dan keterangan yang terkumpul.
Pada penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: Model Pembelajaran Apresiasi Sastra/Puisi dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual di Kelas VII SMP Tahun Pelajaran 2011-2012 menunjukkan kemampuan siswa dengan apresiasi yang baik.

H.    Definisi Operasional
Untuk menghindari salah persepsi, penulis membuat definisi operasional dalam karya ilmiah ini. Berikut beberapa definisi operasional serta penjelasannya. Tarigan (1995 : 5) mendefinisikan Pembelajaran sebagai berikut:
1.      Pembelajaran adalah pengalaman belajar yang dialami oleh siswa dalam proses menguasai tujuan pelajaran;
2.      Pembelajaran adalah pengalaman yang dapat diartikan sebagai penghayatan sesuatu yang aktual. Penghayatan akan menimbulkan respon tertentu dari pihak pembelajar.
3.      Pengalaman yang berupa pelajaran akan menghasilkan perubahan seperti menjadi dewasa, perubahan perilaku serta menambah informasi.
Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses pengalaman belajar, dimana siswa menemukan informasi berupa ilmu pengetahuan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, berupa perubahan tingkah laku, pola hidup dan Iain-Iain.
Apresiasi adalah pengenalan nilai pada bidang nilai yang lebih tinggi sehingga siap untuk melihat serta mengenal nilai dengan tepat, dan menjawab dengan hangat dan simpati (Yus Rusyana, 1984: 321). Sedangkan menurut Poerwadarminta (1984 : 55) apresiasi merupakan penilaian yang baik/penghargaan.
Menurut penelitian, penulis berpendapat bahwa apresiasi puisi pada siswa kelas VII SMP ditemukan beberapa tingkatan pemahaman yaitu tingkat menggemari, menikmati dan mereaksi sehingga siswa dituntut kesungguhan dalam belajar.
Mengapresiasi berarti menikmati keindahan sebuah karya puisi, mengapresiasi berarti menghayati dan memahami sebuah karya puisi yang pada gilirannya memberikan penghargaan kepada sebuah karya puisi itu sendiri.Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), adalah sebuah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas :2002 : 4). Model pendekatan ini adalah model yang baru dalam proses pembelajaran, titik berat pendekatan ini adalah siswa. Siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang lain, siswa secara langsung bersentuhan, mendengar dengan karya sastra melalui sumber belajar dan media pembelajaran.

I.        Metode dan Teknik Penelitian

Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb.) (Poerwadarminta, 1985 : 649). Metode yang paling tepat menurut penulis adalah metode deskriptif. Dengan metode penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil. Hasil yang dimaksud adalah hasil uji coba proses pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan menggunakan media audio (kaset audio), sehingga akhirnya akan dapat diambil kesimpulan apakah pembelajarannya akan berhasil atau tidak.
Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.
J.      Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1993: 102). Sedangkan menurut pendapat (Surakhmad, 1994: 93) penarikan sebahagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi.
Dalam penelitian uji coba ini penulis menentukan jumlah populasi sebagai sumber data yang akan diteliti. Adapun yang dijadikan populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII MTS Tahun Pelajaran 2015-2016 yang berjumlah 150 siswa.




2.      Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil yang diteliti (Suharsimi, 1998: 177). Sedangkan sample yang penulis ambil dari penelitian ini adalah 15 % dari jumlah pupulasi kelas VII MTS yang berjumlah 150 siswa atau sebanyak 30 siswa. Kemudian teknik yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu teknik sampel random kelas.
Yang dimaksudkan dengan pengambilan sampel acak sederhana adalah pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga setiap unit dasar memiliki kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel,
Sistem pengambilan sampel secara acak dengan menggunakan undian atau tabel angka random. Tabel angka random merupakan tabel yang dibuat dalam komputer berisi angka-angka yang terdiri dari kolom dan baris, dan cara pemilihannya dilalukan secara bebas. Pengambilan acak secara sederhana ini dapat menggunakan prinsip pengambilan sampel dengan pengembalian ataupun pengambilan sampel tanpa pengembalian. Kelebihan dari pemngembilan acak sederhana ini adalah mengatasi bias yang muncul dalam pemilihan anggota sampel, dan kemampuan menghitung standard error. Sedangkan,kekurangannya adalah tidak adanya jaminan bahwa setiap sampel yang diambil secara acak akan merepresentasikan populasi secara tepat.

K.    Prosedur Penelitian
1.      Tahap Persiapan
Tahap-tahap yang dilakukan dalam melakukan persiapan adalah sebagai berikut :
a.       Mengidentifikasi permasalahan yang akan dijadikan bahan penelitian melalui observasi lapangan.
b.      Memilih masalah.
c.       Membuat outline proposal penelitian.
d.      Mengajukan judul ke Koordinator Skripsi.
e.       Konsultasi dengan Dosen Pembimbing dalam penyusunan proposal penelitian.
f.       Seminar proposal penelitian.
g.      Melakukan perbaikan proposal.
h.      Membuat dan merevisi rencana pelaksanaan pembelajaran dan bahan ajar penelitian.
i.        Menyusun instrumen penelitian.
j.        Pemilihan sampel penelitian.
k.      Mengurus perizinan penelitian.
l.        Melakukan uji coba instrumen dan penelitian.
m.    Menganalisis hasil uji coba.
2.      Tahap Pelaksanaan Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut
a.       Melaksanakan tes dengan soal ujian performansi berbahasa dan bersastra yang dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu (1) tes objektif, (2) tes nonobjektif, dan (3) tes perbuatan.
b.      Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontesktual di kelas VII mts manarulhuda
c.       Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-September 2015, setelah penulis mendapatkan surat izin dari kepala sekolah dan pihak dari STKIP Siliwangi Bandung
d.      Pengisian angket sikap siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia
3.      Tahap Akhir
Pada tahap akhir dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :
a.       Membandingkan hasil tes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b.      Melakukan analisis data kuantitatif terhadap pretest dan postest.
c.       Melakukan analisis data kualitatif terhadap angket tanggapan siswa, jurnal dan lembar observasi.
d.      Membuat kesimpulan dari data kuantitatif yang diperoleh, yaitu mengenai peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.
L.     Instrumen Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif, dan cara pengumpulan data sebagai berikut:
1.       Angket / Kuesioner
Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya.
Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran (dalam Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
a.       Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
b.      Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.
c.       Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.

2.      Observasi

Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
Bentuk instrumen observasi dibedakan menjadi 2
yaitu:
a.       Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data. Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
b.      Non participant Observation
Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.
Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera photo, dll.


3.      Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif)
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
a.       Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
b.      Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.



M.   Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada tujuan penelitian yang sudah dirumuskan, yaitu (1) untuk melihat bagaimanakah gambaran  variabel-variabel yang diteliti dan (2) untuk melihat ada tidaknya hubungan antar variabel. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka  teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik analisis data deskriptif dan teknik analisis data inferensial. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk manganalisis gambaran variabel, sementara teknik analisis inferensial digunankan sebagai alat untuk menarik kesimpulan ada tidaknya hubungan antar variabel yang diteliti.Secara khusus, analisis data deskriptif yang digunakan adalah dengan menghitung ukuran pemusatan dan penyebaran data yang telah diperoleh, dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Selanjutnya analisis data inferensial yang digunakan adalah analisis korelasi Rank Spearman. Analisis Rank Spearman ini digunakan karena tujuan penelitian hendak mengkaji ada tidaknya hubungan antar variabel dan jenis data yang diperoleh berbentuk data ordinal.
Langkah kerja analisis data desriptif meliputi:
1.      Melakukan editing data, yaitu memeriksa kelengkapan jawaban responden, meneliti konsistensi jawaban, dan menyeleksi keutuhan kuesioner sehingga data siap diproses.
2.      Melakukan input data (tabulasi), berdasarkan data yang diperoleh responden.
3.      Menghitung frekuensi data yang diperoleh.
4.      Menyajikan data yang sudah diperoleh, baik dalam bentuk tabel ataupun grafik.
5.      Melakukan analisis berdasarkan data yang sudah disajikan.
Sementara langkah kerja analisis data inferensial (analisis korelasi) meliputi:
1.      Melakukan editing data, yaitu memeriksa kelengkapan jawaban responden, meneliti konsistensi jawaban, dan menyeleksi keutuhan kuesioner sehingga data siap diproses.
2.      Melakukan input data (tabulasi), berdasarkan skor yang diperoleh responden.
3.      Menghitung jumlah skor yang diperoleh oleh masing-masing responden
4.      Menghitung nilai koefisien korelasi rank spearman , yaitu dengan cara mengkorelasikan skor-skor pada masing-masing variabel.
5.      Menghitung nilai uji statistik t (jika penelitian sampel)
6.      Menentukan titik kritis atau nilai tabel r atau nilai tabel t, pada derajat bebas (db = N – k – 1) dan tingkat signifikansi 95% atau ρ = 0,05.
7.      Membandingkan nilai hitung r atau nilai hitung t dengan nilai r atau nilai t yang terdapat dalam tabel.
8.      Membuat kesimpulan. Kriteria kesimpulan: Jika nilai hitung r atau t lebih besar dari nilai tabel r atau t, maka item angket dinyatakan signifikan.











N.    Jawal Penelitian

No
Jenis Kegiatan
Juli
Agustus
September
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penyusunan Proposal












2
Penyusunan Instrumen












3
Pengumpulan dan pengolahan Data












4
Penyajian Laporan















O.    Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi.(1993). Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka
Cipta Depdiknas. (2002). Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Depdiknas.
--------------. (2003). Kurikulum 2004. Jakarta : Depdiknas.
--------------. (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia. Jakarta: Dediknas.
--------------. (2004). Media Pembelajaran . Jakarta : Depdiknas.
-------------- 2004. Pedoman Pembelajaran Tuntas. Jakarta
: Depdiknas. Efendi. 1993. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Tangga Mustika
Alam. Hidayat, Kosadi. 1995. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia.
Bandung: Bina Cipta. Nurhadi. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I unruk SMP kelas
VII. Jakarta: Erlangga Poerwadarminta. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. PN. Balai
Pustaka. Rusyana, Yus. 1992. Metode Pengajaran sastra. Bandung : Gunung
La rang. Saini, K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia. Sudjana.1996. Metoda Statistik. Bandung : Tarsito Surakhmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian llmiah. Bandung:
Tarsito. Suroto . 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT Gelora Akasara
Pratama. Suroso. 2000. Ikhtisar Seni Sastra. Surakarta : Tiga Bandungkai. Surya, Muhamad . 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.
Jakarta : CV. Mahaputra Adidaya. Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.

 

No comments:

Post a Comment